Kisah Sejarah Perfilman di Indonesia – Legalisasi
EnglishIndonesian

Kisah Sejarah Perfilman di Indonesia

Perfilman Indonesia

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Sejarah Perfilman Indonesia berawal dari masyarakat Hindia Belanda pada tahun 1900 yang mengenal film  dengan sebutan gambar idoep. Istilah gambar idoep mulai dipakai saat surat kabar Bintang Betawi memuat iklan tentang pertunjukan itu (Dikutip dari  Bintang Betawi. Jum’at, 30 November 1900) Iklan dari De Nederlandsche Bioscope Maatschappijdi surat kabar Bintang Betawi menyatakan

“…bahoewa lagi sedikit hari ija nanti kasi lihat tontonan amat bagoes jaitoe gambar-gambar idoep dari banyak hal..”

Kemudian tidak berapa lama setelah pernyataan tersebut muncul lagi iklan berikutnya yang berbunyi :

“…besok hari rabo 5 Desember PERTOENJOEKAN BESAR JANG PERTAMA di dalam satoe roemah di Tanah Abang Kebondjae (MANEGE) moelain poekoel TOEDJOE malem..”

Jenis film yang diputar saat itu merupakan film dokumentar uang berkisah mengenai perkembangan terakhir pembangunan di Belanda dan Afrika Selatan serta profil kerajaan Belanda. Pada tahun 1910 sendiri   tercatat   sebagai   tahun   kegiatan   pembuatan   film   yang   lebih  bersifat pendokumentasian   tentang  Hindia   Belanda   agar   ada   pengenalan   yang  lebih “akrab“   antara   negeri   induk   (Belanda)   dengan   daerah   jajahan (sumber Riyadi Gunawan “Sejarah perfilman Indonesia”)

Pada tahun 1929 lahir tiga perusahaan film diantaranya adalah Tan’sFilm sendiri didirikan pada tanggal 1 September 1929 di Weltevreden. Produksi pertama Tan’s Film adalah cerita populer Njai Dasimah yang dibuat berdasarkan cerita atau legenda  yang dikenal oleh masyarakat banyak.

Uniknya film-film yang dibuat selama tahun 1926 sampai dengan tahun 1930 merupakan film bisu yang dibuat tanpa menggunakan suara apapun jadi hanya hening yang dirasakan dan tampilan gambar pada layar. Baru pada tahun 1931 film dengan menggunakan suara/bicara untuk pertama kalinya dibuat di hindia belanda. Pembuat film pada masa itu di dominasi oleh orang cina, maka kebanyakan film yang dibuat saat itu sebagian  besar  dibuat  berdasarkan  cerita-cerita  Tionghoa  dan  pemerannya  pun orang  Tionghoa  peranakan.  Tahun  1931  The  Teng  Cung  muncul  dengan Cina Motion   Pictures yang   membuat   film   bicara   berjudul Boenga   Roos   dari Tjikembang. Pembuatan film bicara yang dilakukan oleh The Teng Cung melalui perusahaannya itu kemudian diikuti oleh pembuatan film bicara lainnya. Beberapa diantaranya  adalah  film Atma  De  Vischer yang  merupakan  film  bicara  pertama yang dibuat oleh Krugers; Indonesia Malaise yang merupakan film bicara pertama buatan Halimoen Film; Sam Pek Eng Tay (film legenda Cina buatan Cino Motion Pictures); Si  Pitoeng (produksi Halimoen  Film);  dan Sinjo  “Tjo”  Main  di  Film (produksi Halimoen   Film) (sumber : Katalog film Indonesia 1926 -1995 / J. B. Kristanto).

Di  tengah  banyaknya  perusahaan  film  milik  orang  Cina  di  Hindia  Belanda, pada  tahun  1937  berdiri  perusahaan  Film  Belanda Algemeen  Nederlandsch-Indisch Film (ANIF). ANIF didirikan oleh Albert Balink dan Manus Fraken. Albert Balink adalah seorang Indo Belanda yang merupakan wartawan Koran Domestik Berbahasa Belanda “De Locomotief”. Melalui  ANIF,  Balink  yang  mendapatkan  bantuan modal  besar  dari  bank  kemudian  membuat  film  “Terang  Bulan”  pada  akhir 1937. Film Terang  Boelan pemainnya adalah orang Indonesia dengan diiringi lagu keroncong ( sumber : Eddy D. Iskandar.Mengenal Perfilman Nasional. Bandung).

Pada masa penjajahan Jepang Produksi film dimonopoli oleh badan bentukan khusus bernama Jawa Eiga Kosha(Perusahaan Film Jawa) Distribusi filmnya diatur oleh organisasi lain bernama Nippon Eiga Shayang dikenal pula dengan Nichi’ei (sumber : Salim Said dalamProfil Dunia Film Indonesiadan Eddy D. Iskandar dalam Mengenal Perfilman Nasional)

DUNIA PERFIILMAN PADA MASA KEMERDEKAAN (1945 – 1955)

Sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya pada tanggal 17Agustus 1945 sampai dengan tahun 1947 produksi dan peredaran film untuk sementara terhenti. Pada tahun 1948 baru diproduksi kembali 3 film diantaranya:

  1. Air Mata Mengalir di Tjitarum (olehTan & Wong),
  2. Anggrek Bulan, dan
  3. JauhDimata.

Pada tahun 1948 juga muncul Kino Drama Atelier, South Pasific Film Corporation(SPFC)  dan Bintang Surabaya  Film  Coy. Kino  Darama  Atelier dipimpin  oleh  Dr.  Huyung  yang  membuat  film  “Bunga  Rumah  Makan”  dan“Antara  Bumi  dan  Langit”  yang  disutradarai  oleh  Dr.  Huyung  sendiri.  SPFC membuat  film  “Jauh  di  Mata”  tahun  1948  disutradarai  oleh  Andjar  Asmara,“Anggrek Bulan” (1949), serta dua buah film buatan Usmar Ismail, “Citra” (1949) dan  “Harta  Karun”  (1949).  Sedangkan  Bintang  Surabaya  Film  Coy.  Dengan sutradara   Fred   Young   membuat   film Sehidup-semati  dan  Saputangan yang dibintangi oleh Netty Herawati dan Suryono. (SUMBER : JB KRISTANTO –KATALOG FILM INDONESIA).

Industri film pada masa awal kemerdekaan ini ditandai oleh semangat revolusi. Semangat Nasionalisme pun tercermin dalam sejumlah film tentang perjuangan bangsa Indonesia melawan pemerintah kolonial Belanda. Industri film berkembang pesat dari 8 film pada 1949 menjadi 23 pada tahun 1950 dan menjadi 65 pada tahun 1955 (SUMBER : Grafik Produksi Film Cerita Indonesia. Sinematek Indonesia Pusat PerfilmanH. Usmar Ismail) . Kebangkitan film pada masa awal 1950-an ini, disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, kemunculan perusahaan-perusahaan film yang dibuat oleh pribumi Indonesia sendiri seperti, Haji Usmar Ismail dengan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) dan Jamaludin Malik dengan Perseroan Artis Indonesia (Persari). Kedua, lahirnya beberapa persatuan pengedar film, seperti Ikatan Pengedar Film Indonesia (IPEFI) pada 19 Februari 1953. Ditambah dengan berdirinya organisasi importir dengan nama Gabungan Importir Film Indonesia (GIFI).

Lalu pada tanggal 31 Maret 1950 Usmar Ismail mendirikan Perfini (Perusahaan Film Nasional). Kemudian untuk pertama kalinya dalam sejarah film di Indonesia orang pribumi memberanikan diri untuk ikut mendirikan perusahaan film sendiri. Saat  mendirikan  Perfini,  Usmar bertekat  untuk  membuat  film-film  yang  bermutu  guna  menghasilkan  apa  yang disebutnya  film  nasional.  Perfini  didirikan  dengan  modal  yang  kecil.  Produksi yang pertama Darah  dan  Doa mengalami  kesulitan  keuangan  ketika  memasuki tahap produksi. Seperti tekadnya, Usmar berusaha untuk membuat film-film yang bermutu   yang   berarti   film   yang   dibuat   bukan   film   komersil   yang   hanya mementingkan selera penonton saja.

Pada tanggal 23 April 1951 berdiri perusahaan milik orang pribumi yang bernama Persari. Persari didirikan oleh Djamaludin Malik yang merupakan seorang pedagang sehingga dengan mudah ia mendapatkan modal untuk membangun studio bagi Persari. Pria kelahiran Padang pada tanggal 13 Februari 1917 ini Sebelumnya berkecimpung  dalam  industri  film dan  ia  sudah  terlebih  dahulu  bergerak  di  dunia sandiwara.  Pada  zaman  revolusi,  Djamaludin  Malik  berada  di  daerah  Republik dan mempunyai dua rombongan sandiwara yaitu Pantjawarna dan Bintang Timur. Bersama orang-orang di rombongan itulah di tahun 1947 ia mendirikan Fa. Persari di kota Solo. Pada tanggal 23 April 1951, NV Persari berdiri menggantikan Fa.Persari. Pengalaman  selama  di  Manila  pada  awal  tahun  lima  puluhanlah  yang kemudian  membuka  mata  Djamaludin  Malik  kepada  industri  film.

Indonesia menentang penjajahan Belanda yang hendak kembali, yaitu perjalanan dan pengalaman Divisi Siliwangi dari Jawa Timur kembali ke kantong-kantong di Jawa  Barat.  Film  ini  dikenal  juga  dengan  nama  “The  Long  March”.    Film  ini punya arti yang amat penting dalam sejarah: karena merupakan awal pembuatan film  “Nasional”,  walaupun  film  cerita  pertama  yang  dibuat  di  Indonesia  adalah“Loetoeng Kasaroeng” (1926). Salah satu keputusan konferensi kerja Dewan Film Indonesia dengan organisasi perfilman pada 11 Oktober 1962 adalah “menetapkan hari shooting pertama dalam pembuatan film nasional pertama “The Long March”sebagai  Hari  Film  Indonesia”.  Kemudian Tanggal  30  Maret  1950  ditetapkan sebagai Hari Film Nasional, dan Usmar Ismail (Perfini) serta Djamaluddin Malik (Persari)   disepakati   sebagai   Bapak   Perfilman   Nasional (sumber : J.B Kristantos ”Nonton Film Nonton Indonesia”). Perfini   banyak menghasilkan  film  yang  sebagian  diantaranya  merupakan  karya  Usmar  Ismail sendiri, film-film tersebut diantaranya : Dosa Tak Berampun(1951), Enam Jam diYogya(1951),  Terimalah  Laguku(1951),  Kafedo(1953), Krisis(1953), LewatJam  Malam(1954),  Lagi-lagi  Krisis(1955), Tamu  Agung(1955),  Tiga  Dara(1956), Delapan Pendjuru Angin(1957), Sengketa(1958), Asrama Dara(1958), Pedjuang (1960), Toha Pahlawan Bandung Selatan(1961), Bayangan di  WaktuFajar(1962), dan Anak  Perawan  di  Sarang   Penyamun (1962).  Perfini  juga membuat  film  lainnya  yaitu:Embun(1951), Harimau  Campa(1953),  dan Arni(1955)  (yang  disutradarai  oleh  D.  Djajakusuma)  serta Djuara  1960 (1956)  dan Jenderal Kancil (1958) (sutradara Nya Abbas Acup).

Baiklah sobat legal itulah sejarah singkat mengenai dunia Perfiman di Indonesia mulai dari tahun 1900 hingga pada masa Kemerdekaan 1945. Sekarang dunia perfilman Indonesia sudah banyak mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman dan teknologi dimana media tayang/putarnya tidak hanya melalui layar lebar/bioskop namun sudah bisa disaksikan melalui media layar kaca tv dengan layanan digital yang semakin canggih dan terjangkau.

Jika sobat legal ingin melakukan pendirian Koperasi, PT, CV dan badan hukum lainnya  yang aman, cepat dan  mudah maka segera hubungi kami di 0818 0811 7271.

Legalisasi.com jasa pendirian PT dengan syarat pembuatan PT yang mudah “One Stop Bussiness Solution”

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore

Do You Want To Boost Your Business?

drop us a line and keep in touch