Sejarah Perkembangan Bisnis Mangkunegara IV – Legalisasi
EnglishIndonesian

Sejarah Perkembangan Bisnis Mangkunegara IV

mankunegara IV bisnis kerajaan

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Setelah berakhirnya Perang Jawa (1825-1830), para penguasa Jawa Tengah mulai memperbaiki tatanan ekonomi yang sampai sekarang terabaikan, membangun kembali lahan pertanian dan perkebunan untuk menutupi seluruh kebutuhan produksi pangan di daerahnya. rakyat. dan urusan istana. Sejumlah penguasa berhasil melakukan perbaikan ekonomi dalam waktu singkat, hanya beberapa tahun setelah perang. Namun, butuh lebih dari beberapa penguasa untuk menstabilkan ekonomi kerajaan mereka. Seperti yang terjadi pada Praja Mangkunagaran, yang baru memperoleh keamanan ekonomi ketika Mangkunegara IV memerintah. Karang Anyar, pelopor sistem ekonomi modern. “Untuk menopang keuangan pemerintah, dia tidak hanya mengandalkan pajak tradisional seperti yang umumnya diterapkan di kerajaan Jawa, tetapi mengembangkan masyarakat perkebunan dan industrinya untuk mendukung ekonomi pra-modern. Ja”, kata sejarawan Wasino dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa : Mangkunagaran 1896-1944.

Bisnis Agro dan Perkebunan

Setelah naik takhta, langkah pertama Mangkunegara IV adalah merebut kembali tanah-tanah apanage (tanah lungguh) yang sebelumnya disewakan kepada pengusaha swasta Eropa. Mangkunegara IV juga mengambil tanah milik anggota keluarga kerajaan lainnya. Termasuk para bawahan dan anggota Legiun Mangkunegara.

Modernisasi Perekonomian Mangkunegaran

Muhammad Iqbal Birsyad dan lain-lain menyebutkan dalam bisnis keluarga Mangkunegaran, bisnis yang dikembangkan Praja Mangkunegaran  antara lain perkebunan kopi, perkebunan tebu, tanaman padi kuliner, nila, karet, teh, kina, tembakau, dll. Perusahaan perkebunan kopi dan perkebunan tebu menjadi perusahaan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan RAJA. Eropa,” kata Iqbal, dkk.

Usaha perkebunan kopi, sebelum menempati lahan untuk pengambilalihan Mangkunegara IV, ditanam di lahan pedesaan yang dikenal dengan  pagerkoffie atau pakopenUsaha perkebunan kopi, sebelum menempati lahan pembebasan Mangkunegara IV, ditanam di lahan-lahan pedesaan yang dikenal dengan nama pagerkoffie atau pakopen. Usaha Berdagang Kopi sudah dijalankan terlebih dahulu oleh Praja Mangkunegaran jauh sebelum Mangkunegara IV bertakhta. Keberadaan komoditi ini menjadi tumpuan ekonomi praja sebelum munculnya pabrik gula.

Pembaruan di Mangkunegaran

Menurut sejarawan Sri Margana dalam “Kapitalisme Adat dan Sistem Agraria Tradisional: Perkebunan Kopi di Mangkunegaran 1853-1881”, Lembaran Sejarah Vol.1, terjadi peningkatan  produksi kopi di Mangkunagaran  setelah Mangkunegaran IV berkuasa. Dari produksi semula 1.208 kwintal  pada tahun 1842, meningkat menjadi 11.145 kwintal pada tahun 1857. Bahkan setelah menguasai tanah Lungguh, Praja Mangkunegaran berhasil meningkatkan  produksi secara signifikan. Apalagi dengan dibukanya  perkebunan kopi di 24 wilayah di seluruh Praja. , Rudolf Kampf untuk organisasi budidaya kopi. tulis Devi Mardiati dalam Perkebunan Kopi Mangkunagaran dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Wonogiri pada Masa Mangkunegara IV.

Bisnis Komoditi Gula

Selain perkebunan kopi, sebagai sektor utama usahanya, di bawah perintah Mangkunegara IV, Praja Mangkunagaran juga mengembangkan komoditas lain yang berdampak ekonomi tidak kecil bagi pemerintah, yaitu perkebunan tebu. Dalam perkembangan selanjutnya, perkebunan tebu berhasil mendirikan dua pabrik gula raksasa di Karang Anyar. Bahkan tercatat dalam buku Jalur Gula Kembang Peradaban Kota Lama Semarang, terbitan Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan World Heritage Camp Indonesia antara tahun 1868-1878, industri kopi dan gula di Mangkunagaran berhasil meningkatkan produksi gabungan dari dua komoditas ini: 52.000 ton kopi per tahun, dan 207.000 ton gula per tahun.

Praja Mangkunagaran memiliki dua pabrik gula, kata Wasino dalam acara Dikisahkan Wasino, dalam acara Serial Seminar Nasional Sejarah “The Mangkunegara Sugar Industry and Road Infrastructure in The Surakarta Residency”, Jumat (19/02/2021),. Dinamakan masing-masing Colomadu dan Tasikmadu, didirikan pada tahun 1861 dan 1871.

dalam tulisannya di bidang humaniora. Vol. 17, No. 1 tahun 2005. “Mangkunegara IV, Raja-Pengusaha, pendiri industri gula di Mangkunagaran (1861-1881)”, fakultas Universitas Negeri Semarang menyatakan bahwa biaya pembangunan pabrik pertama mencapai 400.000 franc, yang berasal dari penanaman kopi. Pinjaman untuk keuntungan kebun. Mangkunagaran dan seorang Mayor China di Semarang bernama Be Biauw Tjwan yang merupakan teman dekat Mangkunegara IV.

“Keinginan untuk mendirikan industri gula Mangkunegaran berawal dari kunjungan ke kediaman menantunya di Demak, ketika dia menjadi adipati daerah tersebut. Dia mengamati bahwa pohon tebu sebenarnya bisa tumbuh di daerah yang ditanami pohon kelapa. ditanam, yang sering digunakan untuk produksi gula Jawa. Di daerah Mangkunegaran juga tersedia lahan untuk perkebunan tebu,” kata Wasino.

Karena Colomadu adalah perusahaan swasta pribadi maka pengelolaan perkebunan berada di bawah kendali langsung Mangkunegara IV. Namun, pengawasan sehari-hari dilakukan oleh seorang administrator yang pertama kali dipercayakan kepada R. Kamp. Menurut arsip Praja Mangkunagaran, panen pertama pabrik Colomadu pada tahun 1862 mampu menghasilkan hingga 6.000 sekam dari 135 bahu sawah yang ditanami tebu. Hasil Produksi ini setara dengan hasil produksi gula rata-rata per pikul untuk seluruh pulau Jawa pada tahun 1870. Hasilnya tidak hanya untuk konsumsi lokal, tapi juga bisa dijual ke Singapura dan Maluku.

Keberhasilan pabrik gula Colomadu mendorong Mangkunegara IV mendirikan pabrik kedua, PG Tasik Madu. Dikisahkan dalam Jalur Gula: Kembang Peradaban Kota Lama Semarang, terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama World Heritage Camp Indonesia, pabrik ini didirikan pada tahun 1871. Terletak di kecamatan Karang Anyar, di lereng Gunung Lawu sebelah barat.

Pada awalnya, sistem produksi Tasikmadu tidak teratur. Sebagian besar produksi gula datang pada saat keuntungan perkebunan kopi sedang turun. Namun produksi gula di Tasikmadu sudah teratur sejak penandatanganan kontrak dengan NHM (Nederland Handels Matschappij) di Semarang. Suntikan modal dari Kamar Dagang Pemerintah Belanda telah memungkinkan pabrik mengalami peningkatan produksi dan penjualan. Permintaan gula di kedua pabrik tersebut semakin meningkat setiap tahunnya.

Sejalan dengan itu, Praja Mangkunegaran juga segera memperluas lahan tebu. Tidak hanya di kabupaten Karang Anyar, tetapi meluas ke kabupaten lainnya. Selain itu, Praja Mangkunegaran juga dengan cepat membangun jalur transportasi khususnya jalur kereta api, untuk mempercepat dan memperluas proses distribusi produk yang dihasilkan.

Warisan kejayaan Mangkunegara IV tidak bertahan lama. Setelah kematiannya, situasi keuangan Praja Mangkunagaran berubah

Jembatan Perlawanan Mangkunegaran

Warisan yang dibangun Mangkunegara IV semasa jayanya ternyata tidak bertahan lama. Setelah ia wafat, kondisi keuangan di Praja Mangkunagaran menjadi carut-marut hingga mencapai tingkat defisit.

Situasi ini menyebabkan Praja Mangkunagaran mulai menumpuk utang kepada pemerintah Hindia Belanda. Bahkan, praja sudah tidak mampu lagi mengatur keuangannya, sehingga warga Surakarta mengambil alih dengan memberikan bantuan extra pengawasan.

Runtuhnya keuangan pemerintahan Mangkunagaran selain karena resesi global juga disebabkan oleh kerusakan yang ditimbulkan oleh hama tanaman kopi dan tebu di Mangkunagaran. Selain itu juga karena Sri Mangkunegara V sendiri yang salah mengatur keuangan pemerintah. PNS, seperti halnya ketika Mangkunegara IV berkuasa Pengeluaran pemerintah yang besar,” tulis Vasino.

“Kehancuran keungan Praja Mangkunagaran itu, di samping karena faktor resesi ekonomi dunia, juga akibat rusaknya tanaman kopi dan tebu milik Mangkunagaran karena diserang hama. Selain itu, juga akibat kesalahan manajemen keuangan praja dari Sri Mangkunegara V sendiri, yakni masih besarnya pengeluaran keuangan praja ketika salah mengatur keuangan pemerintah seperti ketika Mangkunegara IV berkuasa,” tulis Wasino.

Ktika Mangkunegara VI naik tahta kondisi keungan bernagsur membaik. Kebijakan untuk memisahkan antara keuangan negara dan keuangan pribadi membuahkan hasil membaiknya ekonomi Mangkunagaran. Pendapatan yang berasal dari laba perusahaan, pabrik, pendapata sewa dan sejenisnya harus diterima dan dikelola langsung oleh pejabat praja dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran dan kepentingan Praja Mangkunagaran.

Jika sobat legal ingin melakukan pendirian Koperasi, PT, CV dan badan hukum lainnya  yang aman, cepat dan  mudah maka segera hubungi kami di 0818 0811 7271.

Legalisasi.com jasa pendirian PT dengan syarat pembuatan PT yang mudah “One Stop Bussiness Solution”

 

 

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

More To Explore

Do You Want To Boost Your Business?

drop us a line and keep in touch